BERITAJAKARTA.COM — 03-03-2006 18:50

Pencemaran air tanah di ibu kota sudah sampai pada tingkat mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Propinsi DKI Jakarta menyebutkan, air tanah Jakarta sudah tercemar oleh Bakteri Escherichia coli (Bakteri e coli). Bahkan, tingkat pencemaran sudah mencapai 80 persen.

Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan mengingat sebagian besar warga ibu kota masih mengonsumsi air tanah. Hal ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan warga.

Hal tersebut dikatakan Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan BPLHD DKI, Junani Kartawiria, di Balai Kota, Jumat (3/3). Dia mengatakan, tercemarnya air tanah oleh bakteri e coli ini disebabkan oleh limbah rumah tangga seperti tinja. Apalagi, letak sumber air berdekatan dengan dengan tempat pembuangan tinja. Akibatnya, bakteri e coli dengan mudah mencemarai air tanah ibu kota.

Pemprov DKI, kata Junani, sejauh ini telah melakukan berbagai langkah preventif untuk mengatasi pencemaran air tanah tersebut. Salah satunya dengan diberlakukannya Keputusan Gubernur (Kepgub) nomor 122/2005 tentang pengolahan air domestik pada rumah tangga dan industri.

Keputusan Gubernur itu, lanjut Junani, dijadikan dasar dalam melakukan pengawasan dan pengendalian pencemaran air tanah. Khusus untuk industri dan perkantoran, peraturan itu mensyaratkan agar menerapkan system pengolahan limbah domestik. Pengolahan limbah domestik pada gedung perkantoran dan industri itu diharapkan mampu menjadi palang pintu pencemaran ecoli.

Selain itu, ungkap Junani, BPLHD DKI Jakarta juga secara rutin melakukan pengawasan pada sistem pengelolaan limbah domestik. ’’Kita terus melakukan upaya pengawasan. Bahkan, setiap tiga bulan sekali para pengelola gedung diharuskan mengirimkan sample limbah ke BPLHD. Selanjutnya, limbah itu diperiksa di laboratorium BPLHD DKI,” jelasnya.

Secara terpisah, Sekretaris Komisi D Fathi R. Sidhiq meminta pengawasan pada kadar air tanah itu harus dilakukan sungguh-sungguh dan kontinu. Pasalnya, sebagian besar masyarakat Jakarta masih mengandalkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.