Berita – 25 Desember, 2008

Hari ini Greenpeace memprotes kedatangan minyak kelapa sawit menuju Rotterdam. Para aktivis mengecat lambung kapal Isola Corallo dengan tulisan “ Forest crime” ( Kejahatan Hutan) Kapal tanker tersebut memuat minyak kelapa sawit dari Sinar Mas, produsen minyak kelapa sawit terbesar Indonesia dan telah menjadi sasaran aksi Greenpeace enam minggu lalu di Dumai, Riau.

Investigasi Greenpeace paling mutakhir (1) mengungkapkan bukti bahwa perusahaan ini menghancurkan hutan dan lahan gambut dalam skala besar di Indonesia. Sinar Mas adalah pemasok perusahaan-perusahaan multinasional seperti Nestle, Unilever, Pizza Hut dan Burger King.

“Sinar Mas adalah penjahat iklim dan hutan,” kata Suzanne Kröger, Juru Kampanye Hutan, Greenpeace Belanda. “Sementara pembicaraan dengan Greenpeace terus berlangsung, Sinar Mas terus merusak hutan Indonesia yang tersisa. Sekarang saatnya bagi perusahaan seperti Nestle dan Burger King untuk secepatnya membatalkan kontrak mereka dengan Sinar Mas bila mereka tidak mau dikatakan mendukung pengrusakan hutan dunia yang tersisa yang secara drastik mempercepat memburuknya perubahan iklim.”

Perusahaan seperti Unilever, yang juga membeli minyak kelapa sawit Sinar Mas, mendukung seruan Greenpeace akan moratorium akan perluasan perkebunan kelapa sawit di hutan Indonesia yang tersisa. Greenpeace percaya bahwa cara efektif bagi perusahaan-perusahaan pembeli minyak kelapa sawit menunjukkan kesungguhan mereka adalah dengan membatalkan kontrak dengan perusahaan seperti Sinar Mas yang terus merusak hutan Indonesia demi kelapa sawit.

Indonesia adalah pengemisi gas rumahkaca ketiga di dunia (setelah Cina dan Amerika Serikat) yang sebagian besar berasal dari deforestasi. Ini bukan hanya bencana bagi iklim dan bagi masyarakat adat yang penghidupannya bergantung kepada hutan, tetapi juga bagi keanekaragaman hayati yang terancam punah seperi harimau Sumatra dan orangutan.

Menurut Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, “Jutaan hektar hutan alam akan ditebangi habis dan dibakar jika Pemerintah tidak mengambil tindakan segera. Pemerintah juga harus berhenti bersikap munafik: Mereka memberi konsesi kepada perusahaan yang lama telah memiliki sejarah penghancuran hutan, dan kemudian sekarang sibuk meminta dana kepada dunia internasional untuk menyelamatkan hutan. Agar layak mendapatkan dana perlindungan hutan, pemerintah harus menunjukkan kesungguhannya memperbaiki tata-kelola (governance) hutan dengan segera memberlakukan moratorium deforestasi agar perusahaan seperti Sinar Mas berhenti membuka semua hutan sebelum dana perlindungan diterima.”

Proposal “Hutan untuk Iklim” oleh Greenpeace telah dipaparkan di pertemuan iklim Poznan awal bulan ini. Dokumen itu adalah cetak biru bagi masyarakat internasional untuk memulai pendanaan bagi perlindungan hutan sebagai langkah penting untuk menangani perubahan iklim. Negara-negara seperti Indonesia berharap untuk mendapatkan kompensasi bagi usaha mereka mengurangi deforestasi, sementara itu rencana perluasan perkebunan Sinar Mas termasuk hampir 2 juta hektar hutan alam di Papua dan Papua Barat serta pengrusakan hutan di Kalimantan dan Sumatra terus berlangsung.

(1) lihat briefing greenpeace Sinar Mas: Ancaman kelapa sawit di Indonesia http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/sinar_mas_ancaman_kelapa_sawit_indonesia